12 Agustus 2020

MERANGKAI MEMORI (Panggilan Partisipan - FAQ)

Halo teman-teman! Semoga dalam keadaan baik-baik saja dan tetap sehat!

Dalam kesempatan kali ini, proyek #MerangkaiMemori #KaryaNormalBaru mengundang teman-teman untuk berpartisipasi dan mengeksplorasi ruang virtual Zoom.

Apa itu Merangkai Memori?
Sebuah proyek karya seni kolaboratif berbasis ruang pertemuan Zoom.

Jika saya tertarik jadi partisipan?
  1. Silakan ajukan keinginanmu untuk menjadi partisipan melalui email ke hindrasetyarini@gmail.com dengan email Subject format: Partisipan Merangkai Memori - (nama lengkapmu).
  2. Tuliskan secara ringkas tentang apa yang ingin kamu ceritakan dalam “merangkai memori”. Terutama yang terkait pangan selama masa pandemi.
  3. Bentuk partisipasi tidak melulu menjadi pencerita, namun kamu bisa menjadi pendukung temanmu yang saat ini mendadak jadi pedagang "pemula" sebagai dampak dari pandemi Covid 19. Caranya kamu bisa mempromosikan produk kulinernya atau kamu ajak temanmu ke dalam ruang virtual Zoom yang kamu bantu siapkan. Hasil rekaman video bisa dipakai untuk iklan produk kuliner atau bahan pangan tersebut yang akan diunggah ke media sosial.

Syarat & Ketentuan?
Syarat dan ketentuan berkait teknis peralatan yang perlu dipersiapkan oleh partisipan sendiri untuk proses “merangkai momeri” akan dijelaskan via email. Jika ada pertanyaan yang masih ingin ditanyakan, silakan email dan tinggalkan kontak WA/HP, selanjutnya akan dikontak kembali oleh Hindra.


Salam Hangat,
Hindra Setya Rini


MERANGKAI MEMORI



Merangkai Memori
Proyek seni Merangkai Memori adalah mencoba menjalin “bentuk komunikasi” yang menawarkan “pengalaman” bertutur dengan membuat karya bersama audiens—partisipan untuk ditayangkan di kanal media sosial serta melakukan tindakan percobaan bersama dalam merespon ruang virtual sebagai sebuah “perjumpaan fisik” yang ditata dan diimajinasikan bersama. Berangkat dari karya foto seri tentang pangan di kala pandemi, yang sumber ceritanya dikumpulkan dari berbagai narasumber di berbagai daerah —dari pertanyaan; makanan apa yang paling sering dikonsumsi saat pandemi? Ada pola konsumsi yang berubah tidak dari sebelum dan ketika pandemi terjadi? —melalui “Merangkai Memori” ini Seniman ingin mengeksplorasi bagaimana apresiator karya—partisipan “bertemu” langsung dan menceritakan memori pandemi yang dialaminya  melalui ruang virtual sehari-hari kini. Sebagai bentuk pertukaran cerita, partisipan mendapatkan karya dan buah tangan dari Seniman dan kolaborator proyek Merangkai Memori dalam bentuk hampers yang dikirimkan ke rumahnya. Merangkai Memori berupa fragmen-fragmen yang pengerjaannya berbasis ruang pertemuan virtual Zoom.

Silahkan akses melalui: http://linktr.ee/merangkaimemoriprojek


Tim produksi & kolaborator:
Ilustrator: Annisa Rizkiana Rahmasari
Desain poster: Farid Prasetya
Kontributor video pantai: Aditya Susanto
Kru teknis: Galang Ramadhan Putra
Produsen pangan lokal: Nur Kholis 
Video editor: Rifqi Mansur Maya

Terima kasih:
Jake Adrian
Ardhika Prananta
Bowielha

3 Agustus 2020

KARYA NORMAL BARU - BIENNALE JOGJA 2020








Mulai hari ini kami akan memperkenalkan para seniman yang meraih hibah Karya Normal Baru melalui kanal Biennale Jogja. Karya seniman akan diunggah mulai tanggal 13 Agustus 2020. Seniman Karya Normal Baru : Hindra Setya Rini Hindra adalah salah satu pendiri BIOSCIL (Bioskop Kecil), inisiatif yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan melalui seni khususnya film. Fokusnya memberikan akses pada penonton anak-anak untuk menonton film pendek anak yang sesuai usianya melalui pemutaran keliling di sekolah dan komunitas belajar masyarakat. Ia pernah berproses bersama Teater Garasi, Yogyakarta. Sendirinya pernah menciptakan karya teater "Koteklema dan Ksatria Laut Lamelera" (JABN, 2013). Ia tertarik pada berbagai medium kesenian yang dapat diolah sebagai praktik story telling. Hindra juga mulai menekuni film dan fotografi beberapa tahun terakhir. Film pendek pertamanya "Rumah Bitha" rilis pada Maret 2020. Saat ini sedang menyelesaikan proyek personal fotografi yang mengangkat isu pangan di masa pandemi, sebagian foto-fotonya sudah dipublikasikan dalam zine online oleh Sokong Publish dalam edisi KARANTINA dan dialihwahanakan dalam program Dialog Lensa edisi kedua di kanal Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Program ini didukung oleh SAM Art Fund. #KaryaNormalBaru #YayasanBiennaleYogyakarta #BiennaleJogja #JakartaBiennale #MakassarBiennale #Artfund
A post shared by Biennale Jogja (@biennalejogja) on

25 Maret 2020

INI ADALAH TENTANG MENDENGARKAN DAN DIDENGARKAN

Ear For Your Stories a.k.a Lapak Curhat
Oleh: Agnesia Linda

Suatu malam dan aku lupa hari dan tanggalnya, aku dapat undangan dari Hindra (Hindra Setya Rini, red.) untuk datang ke forum Lapak Curhat di Laki Bini Resto. “Tapi kan aku nggak ikutan curhat kemaren. Emangnya nggak papa? Trus acaranya entar ngapain, beb? Evaluasi proyekmu, pho?” tanyaku ke Hindra. Dia cuma menjelaskan bahwa itu bukan forum evaluasi proyek Ear for Your Stories a.k.a Lapak Curhat, tapi adalah tentang mendengarkan dan didengarkan. Penjelasannya cukup menarik tapi masih sangat ambigu, aku sama sekali tidak mendapatkan gambaran isi forum; apa yang akan terjadi dan entar aku harus gimana atau ngapain.

Malam minggu itu dan aku lupa tanggalnya, dengan ketidaktahuanku tentang isi acara forum, aku datang ke Laki Bini tiga puluhan menit sebelum forum dimulai. Aku bertanya sekali lagi pada Hindra tentang nanti mau ngapain. Masih dengan jawaban yang sama tapi ada tambahan sedikit, Hindra menjelaskan bahwa nanti forumnya tidak formal, dibuat semengalir mungkin, santai dan enjoy agar semuanya bisa mendengarkan dan didengarkan. “Mendengarkan dan didengarkan” sebenarnya itu adalah pesona penjelasan Hindra yang membuatku datang karena penasaran.

Di ruang pojok kiri paling depan bangunan Laki Bini Resto yang biasanya dipakai untuk galeri, sebelas orang beserta Hindra duduk di kursi yang diatur dengan melingkar hingga setiap orang bisa saling memandang. Ada teh hanggat dan cemilan yang juga disediakan di atas meja di pojok ruangan. Hindra membuka forum dengan ucapan selamat datang dan disambung oleh Deska (pemilik Laki Bini Resto) yang sepertinya akan menjadi moderator forum. Kemudian ia mempersilahkan empat orang diantara kami yaitu Putik, Miranda, Asita dan Ani Himawati, satu persatu membacakan tulisan yang mereka bawa. Keempat tulisan itu terkesan seperti cerpen. Semuanya berisi tentang kisah cinta dengan beragam latar peristiwa dan gejolak psikologis tokohnya. Hindra menjelaskan bahwa keempat cerita tersebut adalah penulisan ulang isi curhat pada proyek Ear for Your Stories a.k.a Lapak Curhat yang dilakukan di sepanjang bulan Oktober 2009. Keempat cerita tersebut ditulis ulang oleh si empunya cerita alias “curhater” yang bersedia berbagi kisah curhatnya ke lebih banyak orang, selain Hindra “si juru curhat”.

Pembicaraan kemudian bergulir mengarah pada empat cerita yang telah dibacakan. Beberapa orang angkat bicara memberikan komentar-komentar, menyampaikan persepsinya, dan bahkan ada yang sempat memberikan semacam solusi. Saat itu di kepalaku muncul semacam koridor pikir tentang isi forum; mungkin keempat cerita itu merupakan hasil akhir dari proyek Ear for Your Stories a.k.a Lapak Curhat yang digarap Hindra, yang diwujudkan dalam bentuk seni berupa cerpen. Pemikiran itu berdasarkan pada referensiku tentang sosok Hindra, si pemilik proyek yang berlatar belakang teater dan juga penulis. Ide proyek Ear for Your Stories a.k.a Lapak Curhat berangkat dari ketertarikan Hindra pada story telling yang ia dalami melalui prosesnya berteater. Tapi story telling di sini diwujudkan dalam bentuk curhat interpersonal yang bener-bener intim, semacam bercerita dengan orang lain tentang apa yang benar-benar kita rasakan dan pikirkan. Bukan monolog, bukan invisible theater atau bentuk-bentuk kesenian lain semacamnya. Kalau bisa dibilang, Lapak Curhat Hindra mirip dengan konseling psikologitapi bukan itu. Hindra tidak berlatar belakang psikologi, dia adalah seorang seniman. Lalu  Ear for Your Stories a.k.a Lapak Curhat ini apakah bisa kemudian disebut sebagai perwujudan lain dari seni atau kesenian?

10 Maret 2020

Rumah Bitha (Film Pendek)


Keluarga kecil-bahagia-sejahtera adalah impian. Ini tentang mimpi, dan juga kenyataan. Dalam ke-tak-harmonis-an antara mimpi dan yang “nyata”, kadang seseorang memilih untuk tidak memisahkannya. Mimpi menjadi ilusi, dan kenyataan adalah perihal bagaimana ia dijalani setiap hari.