20 Agustus 2014

Menemukan MEGA MENDUNG

>> catatan perjalanan riset untuk proses penciptaan karya tari Mega Mendung, koreografer: Fitri Setyaningsih.

Oleh: Hindra Setya Rini.

Sebermula kenangan tentang mega-mega.
pada suatu masa, ada seorang nenek tua yang berjarik dan berkebaya. ia bercengkrama dengan seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun. ia bercerita tentang mega-mega di atas langit yang bisa bergerak dan hidup sebagaimana mahluk lainnya. seperti manusia. si nenek bahkan bercerita, suatu saat nanti awan-awan itu akan membawa terbang si gadis ke atas langit yang tinggi. bertemu mega-mega. waktu berselang, kemudian nenek menghilang. namun cerita tentang mega-mega di atas langit sana diam-diam mengendap dalam ingatan; yang kelak, si gadis akan menamainya sebagai masa depan.

15 Agustus 2014

Riset MEGA MENDUNG di Lasem, Jawa Tengah



Foto-foto riset Mega Mendung (karya koreografer Fitri Setyaningsih)
di Lasem, Jawa Tengah.


-----------------
*foto oleh: Hindra Setya Rini & Fitri Setyaningsih

24 Juni 2014

Koteklema & Ksatria Laut Lamalera [ Video Teaser]

-------------------------
------------------
--------
--

Koteklema & Ksatria Laut Lamalera; Public Sharing


P.U.B.L.I.C.S.H.A.R.I.N.G
KOTEKLEMA & KSATRIA LAUT LAMALERA
[ KARYA! JABN 2013 ]
(Behind the Scene)
Rabu, 27 November 2013
16:00 WIB
oleh Hindra Setya Rini
di Rumah IVAA

Dok Foto Pentas Koteklema & Ksatria Laut Lamalera

Jadwal pementasan

  • 24 September 2013: Museum Nusa Tenggara Timur
  • 25 September 2013: SMKN 1 Kupang
  • 26 September 2013: SMAK Giovanni Kupang
  • 27 September 2013: SMAN 3 Kupang

1 Juni 2014

Koteklema & Ksatria Laut Lamalera

"Koteklema & Ksatria Laut Lamalera" adalah sebuah karya seni pertunjukan berbasis arsip musem daerah Nusa Tenggara Timur (MNTT), dengan menggunakan metode storytelling  sebagai sebuah pendekatan penciptaan karya. Koteklema adalah jenis ikan paus sperma (physeter macrocephalus) dan bentuknya juga menyerupai sperma (sperm whale) yang diburu ileh masyarakat Lamalera. Sedangkan "Ksatria Laut Lamalera" adalah julukan yang merujuk pada juru tikam paus, yang disebut Lamafa. Penangkapan Koteklema  telah menjadi budaya dan tradisi bagi masyarakat Lamalera sejak sekitar abad 16 Masehi hingga saat ini. Dokumentasi tradisi penangkapan koteklema  ini dapat ditemukan di museum, salah satunya adalah Museum Daerah NTT (MNTT). Dokumentasi ini diberlangsungkan sebagai salah satu cara mengenalkan budaya ini kepada masyarakat NTT pada khususnys, dan masyarakat luas pada umumnya. Dokumentasi tersebut berupa foto-foto tradisi ritual adat penangkapan koteklema  masyarakat Lamalera yang terletak di Kab. Lembata NTT. Museum daerah ini berfungsi sebagai salah satu ruang untuk mengarsip berbagai budaya etnis di NTT, salah satunya dengan cara mengumpulkan, merawat dan melestarikan artefak koteklema yang terdampar pada tahun 1960an, serta mendokumentasikan tradisi penangkapan koteklema ini. Museum diharapkan menjadi salah satu pusat informasi yang dapat diakses oleh masyarakat khususnya pelajar sekolah.. Namun berdasarkan catatan data kunjungan masyarakat, khususnya pelajar sekolah menengah umum, tingkat kunjungan ke museum berdasar inisiatif sendiri masih rendah.

9 Maret 2014

Sastra NTT, Nisan Kosong dan Epitaf yang Belum Ditatah (Mario F. Lawi)

Oleh: Mario F Lawi
Anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora
Harian Timor Express, Minggu, 9 Maret 2014

Pada terbitan Harian Jawa Pos, 19 Januari 2014, saya membaca cerpen Ilham Q. Moehiddin yang berjudul Nisan Kosong. Hanya dengan melihat ilustrasi yang menyertai cerpen sebelum tenggelam ke dalam cerpen tersebut, saya jadi ingat tradisi perburuan paus di Lamalera.

Saya ingat, jauh sebelum cerpen ini terbit di Jawa Pos, pada 26 September 2013, saya dan beberapa teman dari Komunitas Sastra Dusun Flobamora diundang untuk menyaksikan sebuah pementasan kecil dimotori oleh sekelompok seniman dari Yogyakarta dan Aceh bekerjasama dengan Museum Daerah Propinsi NTT berjudul Koteklema dan Ksatria Laut Lamalera di kompleks SMA Katolik Giovanni. Salah satu tujuan pementasan ini adalah untuk menarik minat masyarakat—terutama kaum muda—untuk semakin sering mengunjungi museum. Pentas yang menggabungkan story-telling, drama, tarian dan nyanyian ini didukung juga oleh peran beberapa siswa dari SMAK Giovanni, SMA Muhammadiyah, SMK Negeri 1 dan SMA Negeri 3 Kota Kupang. Pentas ini mengangkat kembali mitologi yang menceritakan situasi awal masyarakat Lamalera berburu paus. Salah satu adegan dalam pementasan menunjukkan kepercayaan awal masyarakat Lamalera bahwa paus merupakan kerbau yang terlepas dan lari ke dalam laut.